Dua Hati, Satu Perjalanan: Cerita Inspiratif dari Rumah Sakit
Halo!
Wah, sudah lama aku meninggalkan blog ini, hahaha. Sudah berapa tahun ya aku mangkir menulis? Saking lamanya jadi lupa. Sebenarnya, banyak arsip tulisan-tulisan randomku di handphone, tetapi belum ada niat untuk aku up di blog hingga akhirnya aku mengalami sendiri kejadian ini beberapa minggu lalu. Menurutku, cerita ini sangatlah menginspirasi kita semua soal cinta. Oke, langsung saja, ini dia kisahnya.
Beberapa minggu lalu, aku menunggu saudaraku di rumah sakit. Dalam satu kamar itu ada tiga orang pasien, termasuk saudaraku. Pasien yang aku ceritakan ini datang di sore hari hanya diantar suaminya. Ya, hanya berdua. Usianya terlihat sudah lebih dari 50 tahun. Ku pikir nanti anaknya akan datang menyusul. Namun, hingga larut malam, tidak ada yang datang. Bahkan, suaminya sempat pulang ke rumah, tetapi ibu itu sendirian. Aku sempat membantunya karena kasihan; dia membutuhkan sesuatu tetapi tidak bisa mengambilnya sendirian. Ibu ini dijadwalkan operasi pada malam di mana ia datang ke kamar. Operasinya selesai tengah malam. Namanya juga baru operasi, rasa sakit dan kedinginan sudah pasti dirasakan. Kenapa aku tahu? Ayahku pernah mengalaminya.
Malam itu, aku belum tidur karena saudaraku yang sakit juga tidak bisa tidur. Ibu ini rewel sepanjang malam, merintih kesakitan dan sedikit marah ketika suaminya terlambat meladeninya. Yang membuat aku kagum adalah suaminya sangat sabar. Tidak ada nada tinggi dalam merespons istrinya. Bapak ini juga sangat telaten mengurus istrinya, terlihat seperti sudah biasa. Bahkan, Bapak ini meminta maaf kepada pasien lain karena istrinya agak berisik.
Keesokan harinya, ketika makan siang, aku mengajak ngobrol pasien ini. Kami basa-basi perkenalan diri dan menanyakan tempat tinggal. Tapi, tiba-tiba, Ibu ini bercerita bahwa dirinya sudah sering keluar masuk rumah sakit karena "kanker". Aku kaget mendengarnya, mengingat penampilan beliau sangatlah sehat dan terlihat optimis seperti tidak ada beban. Pun juga suaminya yang sangat ramah dan sumeh, kalau orang Jawa bilang. Pokoknya, mereka ini pasangan yang serasi dan terlihat seperti tidak mempunyai beban.
Lalu, suami saudaraku tiba-tiba bertanya, "Pak, kok dari kemarin yang jaga cuma bapak? Anak-anaknya kemana? Merantau ya?"
Dalam hatiku, "Kenapa sih tanya begitu? Kan agak nggak sopan."
Bapak dan Ibu itu menjawab pertanyaan saudaraku hampir bersamaan, "Kami tidak dikaruniai anak, pak."
Jleb seketika hatiku. Mereka kemana-mana hanya berdua dan diberi cobaan berat, tetapi wajah mereka selalu sumringah. Mungkin rasa cinta yang ada sudah pudar, tetapi keduanya masih terlihat saling sayang dan peduli. Hal itu menyadarkan sesuatu kepadaku; hal-hal tulus seperti itu masih ada dan membuatku belajar arti cinta dan ketulusan yang sesungguhnya, di mana tidak memandang keadaan dan menghadapi segalanya bersama dengan sabar.
Ah, aku jadi melankolis, hahaha. Menulis kisah ini membuatku ingin menangis. :')
Semoga kisah mereka menjadi inspirasi bagi kita semua. Yang kalian nikahi bukan hanya sekadar orangnya, tetapi juga kisahnya dan semua bagian hidupnya.
-SAR-

Komentar
Posting Komentar